Halo gais, di tulisan kali ini aku mau sedikit cerita tentang masa kecilku.
Muara Teweh
Jadi, aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Kalimantan Tengah, yaitu Muara Teweh. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Aku merupakan anak tunggal. Hidupku terasa menyenangkan, selalu dikelilingi banyak teman. Kedua orang tuaku pun sangat perhatian denganku.
Sejak kecil, aku selalu dibiasakan oleh orang tuaku untuk terlibat aktif di gereja. Bahkan waktu masih kelas 4 SD, aku les privat piano agar bisa menjadi organis gereja. Awalnya sih terasa berat karena pengetahuan musikku minim banget. Tapi setelah hampir 3 tahun privat dan berlatih, menjadi organis di gereja ternyata sangat menyenangkan bagiku, bahkan sampai bisa mengisi hari-hariku.
Si Kecil yang Penakut
Oh iya, dulu waktu kecil, aku penakut tahu! Baru ketemu orang baru saja pasti langsung nangis, dan kalau ke mana-mana harus selalu ngintilin di belakang Mama Papa. Tapi rasa takut itu berbalik saat Tuhan memanggil Mamaku untuk selama-lamanya. Sejak saat itu, aku belajar jadi orang yang tidak penakut. Apa-apa harus aku urus sendiri, bahkan terkadang aku masak supaya aku dan Papaku bisa makan bersama. Sebenarnya sih tidak ada paksaan aku harus bisa masak, tapi kadang aku dilatih saja sama Papaku supaya tahu soal dapur. Dari situlah aku tumbuh menjadi perempuan remaja yang bisa mengurus diriku sendiri.
Menulis Diari sampai Blog
Aku dari kecil mempunyai hobi menulis. Sampai pada suatu saat, aku iseng mencoba menulis cerpen dan mengirimkannya ke redaksi Majalah Bobo. Pasti kalian tidak asing, kan, dengan Majalah Bobo? Yak, betul sekali! Majalah yang sangat populer pada masanya. Tidak disangka, cerpen yang aku kirimkan dimuat di sana. Aku mengetahuinya dari sahabatku. Dia langganan Majalah Bobo, lalu memberi tahu kalau ada ceritaku di bagian cerpen. Dari situ aku senang sekali dan makin bersemangat untuk menulis.
Sejak saat itu, apa pun yang aku rasakan atau ingin aku curhatkan, selalu aku tulis di buku diari. Aku sampai beli buku diari yang ada kuncinya, jadi rahasia di dalamnya aman banget. Karena aku anak tunggal—sedangkan Mamaku sudah tidak ada—kadang aku bingung mau curhat ke siapa. Mau curhat sama Papa kayak malu gitu lho. Jadi, apa yang aku keluh kesahkan, aku tulis deh di diari. Sampai hari ini, diari itu masih aku simpan rapi dan terkunci. Dari sanalah hobi menulisku terus berjalan, dan sekarang, aku menuangkannya ke blogku.